Cinta tak pernah bohong
Pengkhianatan macam apa ini kiranya. Siapa yang kira-kira mengkhianatiku? Lola ataukah pacarku, kekasihku Davis. Bodoh. Mereka berdualah yang telah mengkhianatiku.
Tapi kenapa? Kenapa mereka begitu mengkhianatiku. Siapakah aku yang ada dalam benak mereka? Sejak kapan mereka bermesraan di belakangku? Ya Tuhan…apakah mereka manusia-manusia tak berperasaan?
“Nini!”, teriak Davis, memanggilku
Astaga, bagaimana ini? Aku tidak mau ketahuan, tapi sudah terlanjur. Aku berlari pontang-panting meninggalkan mereka berdua, meninggalkan serpihan hatiku yang telah sirna hilang bersama deru angin yang entah akan berakhir dimana.
Aku roboh diatas kasur yang empuk. Kubenamkan kepalaku dalam bantal. Dengan cepat bantalku menjadi basah karena air mata yang berebut keluar. Aku sudah tak tahan lagi. Aku gak mau sakit hati lagi. Aku sudah capek hidup seperti ini, hidup yang selalu diselimuti kabut pengkhianatan.
Derrt…!!!
Handphoneku bergetar dan kulihat ternyata Davis meneloponku. Sesaat aku bimbang tetapi pada akhirnya, aku menerima dan mengangkat telefon Davis dengan suara bergetar karena aku akan ngomong dengan seseorang yang telah menghancurkan hidupku.
“ha…hallo,”
“Ni, gue minta putus!” kata suara berat yang amat aku kenal di seberang sana.
Hatiku yang sudah tak tersisa lagi menjadi pilu dan kosong mendengar kalimat yang sangat ku benci dari seseorang yang telah hidup dihatiku.
“Gue tau, lo pasti udah jadian ma Lola. Iyakan?” teriakanku yang juga membawa kabur cintaku telah ku teriakkan. Semuanyapun terasa lebih ringan walau air mata sudah membanjiri pipiku dan sekaligus juga hatiku.
“Nggak Ni, gue ada alas an yang pasti!” jelas suara di seberang sana yang kedengaran gelisah.
“Ya, pasti hancurin hidup gue!iyakan!”. entah darimana kudapatkan kekuatan untuk berbicara kasar seperti itu pada Davis.
Tutttt
Sambungan telah diputus oleh Davis. Entah apa yang terjadi. Tapi, aku makin jengkel dibuatnya. Udah tau aku lagi hancur. Eh malah sekarang dicuekin gitu aja.
Sebell….!!! Kenapa sih dunia ini kejam sekali padaku? Apa salahku? Tolong….jangan sakiti aku lagi. Belum puaskah?
Derrrt…..!!
Handphoneku bergetar, dan kulihat ternyata Tante Rinda, ibu Devis meneleponku.
“Ya hallo Tante!” sapaku ramah dan sopan.
“Nini, kerumah sakit Indah sekarang! Cepat!” teriak suara orang di seberang sana. Dan…. Tuttt…sambungan telepon langsung terputus.
Aku merasa ada yang tidak beres. Akupun mengambil jaketku dan mencari taxi untuk pergi ke rumah sakit Indah.
Sesampai disana, ku lihat sosok Tante rinda mondar-mandir dengan gelisah di UGD. Akupun berlari menghampirinya.
“tante….apa yang terjadi”
“Davis akan menjelaskan segalanya. Jika dia sempat, ” jawab Tante Rinda masih gelisah. Aku gak ngerti dengan kata”jika dia sempat.”
Aku melihat Davis berbaring dengan lemah dalam ruangan UGD. Dan hidungnya dipasang alat bantu penafasan.
Davis tersenyum padaku. Dia kelihatan pucat, lemah, dan sangat rapuh. Tapi kemudian dia memegang tanganku.
“Ni…”panggilnya lemah.
“I…Iya”
“Lo cinta kan sama gue?”
“Tentu,” tiba-tiba saja airmata kembali berebut keluar dari mataku.
“Gue juga cinta banget sama lo. Gue pingin slalu bersama lo. Tapi…?” jelasnya putus asa.
“Tapi apa?”
“Gue akan mati Ni. Nyawa gue tinggal sehelai rambut. Gue terkena penyakit kanker otak, Ni”
Aku kaget. Aku sedikit berguncang. Davis menderita, dia lebih menderita daripada aku. Aku sendirilah yang merasa menjadi orang yang tak berperasaan. Tak pernah sedikitpun aku pikirkan tentang Davis. Dan sekarang Davis sudah berada di puncak penderitaannya. Entah berapa banyak dosa yang diberikan-Nya padaku karena keegoisanku.
“ni,” suara Davispun melemah
“Vis, kalo lo cinta ma gue, kenapa lo ciuman ma sahabat gue?” akhirnya unek-unek di hatiku telah ku lontarkan.
“Gue ma Lola kerjasama, supaya lo jadi benci ma gue, Ni ”
“kenapa?’
“karena gue gak mau lo sedih dan tangisin gue saat gue mati”
“ hah?”
Tapi sebelum aku sempat bertanya Davis sudah tak bergerak lagi dan dia telah meninggal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar